Setelah Ngegym
aku ngopi dan menulisTubuh ini kan komposisi banyak kimia ya. Otak yang menggerakkan semuanya. Apabila nafsu hanyalah usaha otak untuk mengakomodir apapun yang bermaksud membuat manusia survive secara insting, maka nafsu bisa dipelajari secara sains di era modern. Di masa kini yang berburu dan mengumpulnya tidak sesulit dan seekstrim dulu.
Tentu aku tidak ingin sok-sokan pintar seperti Miles Bron dalam Glass Onion, ini hanya refleksiku tentang apa yang sedang kujalani di usia 35 tahun ini. Bukan riset ilmiah, ini hanya pengalaman pribadi yang tentu saja nilai validasinya kecil sekali.
Sudah dua bulan aku mengubah pola makan juga diet, mulai rutin olah raga (angkat beban dan cardio), mencoba menghindari perdebatan dan perbincangan yang tidak perlu (kalau kata Rizki, itu adalah hama yang harus dibuang dari hidup). Hidupku jadi lebih tenang, tidak khawatir berlebihan, tidak terlalu overthinking.
Perasaan itu berbanding lurus dengan kondisi kesehatanku yang juga membaik. Kolesterol mantap, gula darah juga ok, tensi normal. Ah, nikmat mana lagi yang aku dustakan?
Hanya bahu aja nih bangke yang masih agak sakit.
Bebanku di gym semakin meningkat. Ototku belum besar tapi koordinasinya sudah bagus. Heart rate-ku mulai tidak ugal-ugalan seperti sebelumnya. Jalan bentar di treadmill langsung 150 kan bangke. Sekarang, santai aja.
Aku masih merokok. Masih mikirin, dan terlalu banyak mikir apa yang bisa mengganti kenikmatan merokok? Haruki Murakami berhenti merokok karena berlari, begitu pula dengan dr. Tirta. Apakah aku juga harus menjadi pelari kalcer?
Untuk sekarang aku hanya jalan dan jogging di treadmill doang kayak marmut. Mungkin nanti bakal berlari di jalan. Who knows?
Aku menulis ini sendirian di Dahan Backyard, memesan secangkir americano. Nikmat sekali sore ini, agak mendung di Januari. Memanfaatkan waktu luang di Minggu sore ketika putriku dibawa istriku berkunjung ke rumah Uwanya.
Sumpah pak, kalau ada uang untuk ngopi di luar, mending di luar dah. Daripada di teras depan rumah mulu. Suasana baru pak, yang dipandang bukan rumah tetangga. Enak pak.
---
Baca catatan lainnya