<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>📝 Catatan on hey anugrah!</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/</link><description>Recent content in 📝 Catatan on hey anugrah!</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id-ID</language><managingEditor>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</managingEditor><webMaster>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</webMaster><copyright>This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.</copyright><atom:link href="https://heyanugrah.com/catatan/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Ramadhan 2026</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/ramadhan-2026/</link><pubDate>Fri, 20 Mar 2026 00:09:03 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/ramadhan-2026/</guid><description>sekarang aku mau ungkapin apa yang kurasa di rumah digitalku ini tentang Ramadhan tahun ini yang dar der dor.
njir, mentah aja ya tulisannya. raw as fuck.
aku mencoba menjadi pribadi yang baik di ramadhan sekarang. puasa kujalani dengan pol beserta beberapa ibadah sunnahnya yang kujalani sebisaku. jadi, menurut perhitunganku, puasa tahun ini jauh lebih baik daripada puasa tahun lalu. namun, ada banyak hal yang bikin aku bertanya-tanya tapi aku tetap optimis memandang masa depan.</description></item><item><title>Setelah Ngegym</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/setelah-ngegym/</link><pubDate>Sun, 04 Jan 2026 16:04:13 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/setelah-ngegym/</guid><description>Tubuh ini kan komposisi banyak kimia ya. Otak yang menggerakkan semuanya. Apabila nafsu hanyalah usaha otak untuk mengakomodir apapun yang bermaksud membuat manusia survive secara insting, maka nafsu bisa dipelajari secara sains di era modern. Di masa kini yang berburu dan mengumpulnya tidak sesulit dan seekstrim dulu.
Tentu aku tidak ingin sok-sokan pintar seperti Miles Bron dalam Glass Onion, ini hanya refleksiku tentang apa yang sedang kujalani di usia 35 tahun ini.</description></item><item><title>Dahan Backyard</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/dahan-backyard/</link><pubDate>Thu, 11 Dec 2025 13:36:36 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/dahan-backyard/</guid><description>Postingan tulisanku di Threads di-like mulu sama Pa Eki. Oh God, I respect him so much. Dia adalah dosen puisiku dulu di UPI. Satu like dari dia itu selesai. Selesai! Aku gak butuh like dari siapa-siapa lagi. Done!
Sama seperti Laze yang bangga ketika Rhoma Irama suka lagunya dia (walau aku gak yakin, Laze bangga beneran ga ya?). Ini tentang value. Nilai yang Pa Eki beri padaku itu udah memenuhi kotak apresiasi karyaku.</description></item><item><title>Temukita</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/temukita/</link><pubDate>Wed, 10 Dec 2025 17:17:23 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/temukita/</guid><description>man, terlalu lama diam di ruangan itu bikin gila. aku ngambil cuti, seharian tadi aku di rumah. Main PES dan nontonin YouTube alur cerita Attack on Titans. Itu bikin gue gila! Hiburan tidak semenghibur itu ternyata. Aku memutuskan untuk keluar. Mencari americano hangat sambil menyesap beberapa batang rokok. Dengan kondisi kesehatan yang sedang tidak baik-baik saja, tidak banyak yang bisa kumakan. Americano dan air putih adalah sahabat terbaik.
sial, aku salah ngambil buku.</description></item><item><title>Setelah Membaca Setelah Boombox</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/setelah-membaca-setelah-boombox/</link><pubDate>Tue, 02 Dec 2025 21:24:01 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/setelah-membaca-setelah-boombox/</guid><description>Aku kira menulis resensi buku itu akan mudah. Ada saja alasan yang membuat aku tidak jadi menulis resensi utuh. Seringnya, karena malas akibat telah melewati rutinitas sehari-hari. Namun, perlu diakui bahwa membaca Setelah Boombox Usai Menyalak (seterusnya aku akan menyebut Setelah Boombox) itu lebih mudah daripada membaca Falsafah Hidup Buya Hamka. Bukan karena bobot materinya yang lebih ringan. Tentu tidak. Tulisan Herry Sutresna alias Ucok tentu bukan perkara enteng untuk dibaca, melainkan aku lebih tertarik membaca buku musik keren-kerenan seperti hip-hop dan punk daripada belajar agama.</description></item><item><title>Disela Membaca Buku Hamka</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/disela-membaca-buku-hamka/</link><pubDate>Tue, 04 Nov 2025 14:24:53 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/disela-membaca-buku-hamka/</guid><description>Lahir 1908, Falsafah Hidup terbit 1940. Di usia 32 tahun beliau udah nerbitin buku nasihat menurut Al-Quran dan As-Sunnah.
Saya umur 32 ngapain ya? Kerja sebagai karyawan biasa. Nulis-nulis diary kayak gadis puber yang cengeng.
Misal, tulisan-tulisan saya dikumpulkan dan dibukukan, apakah bisa seabadi dan sebermanfaat buku beliau?
Tentu saja tidak!
Kalau nemu fakta seperti ini, saya suka sedih dan menyesal. Ngapain sih saya hidup selama ini? Buat apa? Ada manfaatnya ga saya idup?</description></item><item><title>Bayar Pajak</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/bayar-pajak/</link><pubDate>Mon, 03 Nov 2025 14:22:21 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/bayar-pajak/</guid><description>Aku tidak suka bayar pajak. Motorku pajaknya tetap kubayarkan. Supaya jika aku menggerutu ketika ngejedak nemu jalan butut, gerutuku jadi valid. Umpatan pada lampu lalu lintas yang mati juga jadi terasa sah.
Ingin hati bebas aja. Aku yang rakyat biasa ini bisanya ya gitu. Berkontribusi pada negara yang udah ada pemerintahannya. Jadi kalau pun aku mau marah-marah di sosmed tentang negara, kemarahanku valid.
Cuman masih suka lupa ngedoain ini negara. Aku masih fokus berdoa untuk diri sendiri dan keluarga.</description></item><item><title>Setelah Dead Poets Society</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/setelah-dead-poets-society/</link><pubDate>Wed, 29 Oct 2025 19:32:48 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/setelah-dead-poets-society/</guid><description>Aku baru saja menonton Dead Poets Society lagi setelah beberapa tahun. Sebelum kemarin malam, mungkin terakhir aku menontonnya saat aku masih mahasiswa.
Tololnya, pada saat mahasiswa itu aku ga ngerti bener. Kayaknya, semalam aku nonton itu malah lebih ngerti. Lebih paham. Lebih menyentuh.
Aku jadi ingin berpuisi lagi. Nyastra. Ingin menghidupi jiwa lagi. Supaya Carpe Diem. Supaya Seize the Day.
Agar, tubuh ini tidak mati dalam rutinitas. Walau, sebenarnya rutinitas itu membebaskan juga ya kalau dipikir-pikir mah.</description></item><item><title>Bengkel Siasat</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/bengkel-siasat/</link><pubDate>Sun, 29 Jun 2025 23:01:49 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/bengkel-siasat/</guid><description>Daftar isi:
Episode #0 : Kenapa ga nulis aja?
Episode #1 : Siasat-siasat
Episode #2 : Pasca-kebenaran
Episode #3 : Sepatu yang sama
Episode #4 : Percaya Tuhan
Episode #5 : Gak Nyaman
Episode #6 : Baca Buku
Episode #7 : Opini Imposter
Episode #8 : Khawatir Masa Depan
Episode #9 : Terlalu Malam
Episode #10 : Seimbang
Episode #11 : Ide-ide Gabut
Episode #12 : Karena Gampang
Episode #13 : Mundane</description></item><item><title>Perpanjang</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/perpanjang/</link><pubDate>Wed, 11 Dec 2024 10:25:19 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/perpanjang/</guid><description>aku baru saja bayar domain. supaya gak mati. aku masih ingin tetep ada di ranah maya ini. sebagai suatu identitas bahwa aku pernah sekolah software engineering.
aku meniru orang-orang hebat seperti hilman, rizaldy, dan mathdroid. awalnya aku ingin seperti mereka. akhirnya aku sadar, aku gak bisa jadi mereka.
hanya bisa jadi diri sendiri. cuih!
aku masih menulis tapi gak di sini. karena di sini ribet untuk postingnya. padahal aku sendiri yang bikin.</description></item><item><title>Mencari Berkah</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/mencari-berkah/</link><pubDate>Thu, 03 Oct 2024 20:44:23 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/mencari-berkah/</guid><description>Setelah punya anak (ya akhirnya saya punya anak!), pola pikir jadi berubah lagi.
Aku mau ngomongin tentang rezeki.
Ini bukan tentang rezeki bertambah karena hadirnya buah hati.
Aku sekarang percaya bahwa rezeki itu bukan perkara nominal, melainkan perkara berkah.
Aku percaya keberkahan.
Sebanyak apapun nominal uang yang aku dapat, kalau gak berkah, gak akan jadi apa-apa.
Sebaliknya, walau nominal tidak banyak, tapi kalau berkah, Inysa Allah bikin nyaman.
Gimana cara menghitung berkah?</description></item><item><title>Bersama Kesulitan</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/bersama-kesulitan/</link><pubDate>Thu, 13 Jun 2024 20:10:32 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/bersama-kesulitan/</guid><description>Bismillah,
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ . اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
&amp;ldquo;Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.&amp;rdquo; (QS As-Syarh : 5-6)
Kedua ayat itu jadi ayat favorit saya sekarang ini. Bermula dari konten di media sosial, aku menonton Indra Frimawan membicarakan ini. Mulanya hanya angin lalu, tapi ketika aku ditimpa masalah duniawi, aku langsung ingat dua ayat itu. Sekarang, aku selalu membaca ayat-ayat itu ketika pikiran lagi kalut atau ketika ada problem yang rasanya sulit diselesaikan.</description></item><item><title>Karyamu Jelek!</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/karyamu-jelek/</link><pubDate>Wed, 29 May 2024 22:00:16 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/karyamu-jelek/</guid><description>Salah satu cara supaya dirimu tetap berkarya adalah mengakui bahwa karyamu itu jelek dan gak akan jadi apa-apa.
Hilangkan itu harapan bahwa kamu bakal jadi penulis best seller, bakal jadi pelukis selevel Jeihan, atau podcaster sekelas Adriano Qalbi. Hilangkan itu semua, blas!
Jadi kalau ga ada yang lihat karyamu ya sudah, kalau ga ada yang suka ya sudah. Ya wong karyamu jelek toh!
Kalau ada yang suka, jadi Alhamdulillah, jadi bersyukur.</description></item><item><title>Cukup</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/cukup/</link><pubDate>Thu, 23 May 2024 09:56:54 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/cukup/</guid><description>&amp;ldquo;Dari Jabir radhiyallaahu &amp;lsquo;anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tetaplah kalian semua dengan sikap qanaah, karena sesungguhnya qanaah adalah harta yang tidak pernah habis&amp;rdquo; (HR. At- Thabarani dalam Mu&amp;rsquo;jam al-Awsath).
Dalam KBBI &amp;ldquo;cukup&amp;rdquo; adalah sebuah kata sifat yang berarti : dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya; tidak kurang
Aku selalu mencukupkan diri ketika menulis. Di awal aku menulis novel, 100 kata per hari sudah aku anggap cukup. Kini 250 sampai 300 kata per hari yang aku anggap cukup.</description></item><item><title>Setelah Menulis 25.000 Kata</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/setelah-menulis-25.000-kata/</link><pubDate>Sat, 11 May 2024 21:46:52 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/setelah-menulis-25.000-kata/</guid><description>Alhamdulillah. Ini adalah sebuah pencapaian. Selain skripsi, novel yang sedang kugarap ini merupakan tulisan dengan jumlah kata yang panjang banget dalam sejarah tulis-menulisku.
Apa yang aku dapat dalam perjalanan panjang ini? Ada beberapa. Aku akan coba beberkan di sini dengan singkat.
Belajar terus-terusan bikin endurance bertambah
Di awal tahun, aku hanya bisa menulis 100 kata per hari. Sekarang sudah bisa nulis 250 kata per hari. Kualitasnya? Tentu saja masih buruk.</description></item><item><title>Tujuan Utama</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/tujuan-utama/</link><pubDate>Tue, 02 Apr 2024 22:32:51 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/tujuan-utama/</guid><description>Di usia kepala tiga ini aku masih punya banyak mimpi. Kutulis mimpi-mimpiku di note ponselku. Biar apa? Biar inget aja kalau ternyata masih banyak hal yang ingin aku raih. Walau, apinya sudah tidak seberkobar dulu.
Tapi, apinya gak mati, men.
Melangkah dikit-dikit aja. Yang penting kan gerak aja ya. Supaya gak diam di satu titik. Berproses. Klise banget ya. Tapi memang itu yang harus dilakukan.
Setidaknya aku punya landasan teori dari James Clear.</description></item><item><title>Ramadhan</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/ramadhan/</link><pubDate>Wed, 13 Mar 2024 22:42:18 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/ramadhan/</guid><description>Aku insya Allah ingin berpuasa penuh di bulan Ramadhan tahun ini. Dengan harapan perbaikan diri juga.
Menengok ke belakang, banyak banget dosa yang aku buat. Solat taubat terasa susah banget dijalaninnya. Padahal tinggal solat doang. Memang spesial perkara diri ini dengan Tuhan.
Berusaha untuk selalu ceria di siang hari tanpa bantuan nikotin dan kafein itu adalah hal yang menantang banget.
Tidak terganggu makan dan minum membuat diri ini mencari kesibukan lain, seperti: membaca terjemahan Al-Quran.</description></item><item><title>Kaizen Nulis</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/kaizen-nulis/</link><pubDate>Wed, 14 Feb 2024 23:42:02 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/kaizen-nulis/</guid><description>Setelah dipikir-pikir, gila, novel yang lagi saya tulis ini ceritanya absurd banget. Absurd norak sih sebenernya.
Ini kayak anak SD lagi mengkhayal aja. Berantem-beranteman, ketemu monster, ke dunia antah-berantah.
Anehnya, apa yang aku tulis itu jadi semacam rekreasi gitu. Rekreasi dari kebosanan rutinitas sehari-hari.
Masuk ke dunia fantasi lalu main-main dengan wahana-wahana yang tersedia di dalamnya.
Aku belum menjadi penulis yang baik. Hanya 100 sampai 200-an kata yang bisa kutuang tiap harinya pada novelku ini.</description></item><item><title>Dewasa Membaca</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/dewasa-membaca/</link><pubDate>Sun, 11 Feb 2024 22:29:25 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/dewasa-membaca/</guid><description>Kini, ketimbang beli buku baru, aku lebih sering baca buku yang sudah ada. Dibaca ulang.
Rasanya beda. Pahamnya beda.
Lagi pula, sekarang aku lebih pintar.
Dulu, emosi terlalu banyak terlibat dalam memilih bacaan dan ketika membaca. Emosi anak muda yang berapi-api supaya keren.
Sekarang, jadi lebih tahu mau baca apa. Jadi lebih bijak nyari bahan bacaan.
Oh aku ingin kreatif, maka aku baca Austin Kleon. Oh aku gak mau pusing gak penting, maka akan ku hindari baca Karl Marx.</description></item><item><title>Dewasa Menulis</title><link>https://heyanugrah.com/catatan/dewasa-menulis/</link><pubDate>Mon, 05 Feb 2024 21:20:42 +0700</pubDate><author>dialog.anugrah@gmail.com (Anugrah Ramadhan)</author><guid>https://heyanugrah.com/catatan/dewasa-menulis/</guid><description>Sepertinya menulis novel itu membutuhkan kedewasaan. Ini saya rasakan sekarang. Tulisan novel yang lagi saya garap sudah masuk 7000an kata. Ini adalah rekor untuk saya menulis fiksi sepanjang itu.
Sulit.
Waktu saya masih muda dan belum dewasa, idealisme saya dalam menulis itu tertuang dalam tema bombastis dan kata-kata sastrawi langitan.
Sekarang setelah lebih dewasa, ternyata satu-satunya yang harus dipegang teguh dalam menulis adalah komitmen untuk menyelesaikan cerita.
Komitmen itu akan melahirkan konsistensi menulis tiap hari dan belajar teknik-teknik menulis lainnya.</description></item></channel></rss>