hey anugrah!


Saman: Ketika Wanita Di Atas Pria

menjungkirbalik patriarki

Novel Saman ditulis oleh Ayu Utami dan memenangkan Sayembara Roman pada tahun 1998

“Wanita dijajah pria sejak dulu” -Ismail Marzuki

Apa yang aku rasakan sekarang, di lingkungan sekitar di tempat aku hidup: Pria selalu dikaitkan dengan kekuatan dimana semua pekerjaan berat-berat harus menempel di kepribadian pria, termasuk pekerjaan memperkosa. Dimana si pria menggagahi wanita yang memang akan selalu muncul kesan bahwa pria lah yang lebih kuat dari wanita, wanita sebagai subordinate, pria selalu berada “di atas” wanita. Benarkah begitu? Iyalah bener, masyarakat kita kan memang beranggapan begitu.

Saman memberikan sesuatu yang berbeda bagiku. Patriarki dijungkir-balikkan di isi ceritanya. Oh, apakah ini bersinggungan dengan feminisme? Ya. Jika isu patriarki yang digulingkan tersangkut di otakku, berarti memang begitu.

Ayu Utami setidaknya memiliki lima karakter wanita di dalam novel ini yang berperan sebagai “agen rahasia” untuk menggulingkan pemikiran tentang dominasi pria: Laila, si pekerja yang telah siap lahir-batin sebagai wanita simpanan; Cok, si wanita bertubuh sintal; Yasmin, yang berhasil mengangkangi lelaki yang pernah menjadi pastor; Shakuntala, si penari; dan Upi, si wanita sakit jiwa. Empat dari lima wanita saling beruhubungan sebagai sahabat, kecuali Upi yang berhasil menggoda Saman keluar dari jalan keagamaannya. Sedangkan Saman adalah tokoh pria yang paling penting yang ada di novel ini.

Virginia Woolf berpendapat jika wanita harus menolak konstruksi sosial tentang kewanitaan dan membikin definisi identitas kewanitaannya sendiri. Jika menilik dari apa yang dikatakan si Woolf itu, Ayu Utami sepertinya telah sukses membikin definisi tentang kewanitaannya sendiri lewat novel ini. Selain itu, Bressler (2007) menegaskan bahwa kritik feminis bertujuan untuk menegosiasikan nilai-nilai patriarki yang mengandung tentang kekuatan dominasi pria. Hampir keseluruhan isi novel dinarasikan oleh karakter wanita. Cuman bagian yang menceritakan kehidupan Saman saja yang dinarasikan oleh si Saman sendiri. Mungkin, Ayu tidak mau terlalu naif untuk memberikan suatu sudut pandang dari kaum hawa saja, maka suara Adam pun layak dipergunakan sebagai pembanding, mungkin.

Jika suatu sudut pandang memandang sesuatu dari siapa yang memandang, maka ini adalah pandangan wanita-wanita kreasi Ayu terhadap dunia. (Ehm, inget dulu apa kata abang Foucault ah: “literature captures reality”). Gampangnya, aku bakal ngebanding-bandingin dunia pria dan wanita, biar kontrasnya terasa. Karena ini tentang penggulingan patriarki, maka nilai-nilai patriarki harus aku munculin juga. Patriarkinya menurut siapa? Menurutku, titik.

You know lah, kalau masyarakat kita beranggapan bahwa pria harus jadi tulang punggung keluarga, bekerja untuk menafkahi anak-istri. Apa wanita harus diam diri saja dirumah ngurusin keluarga doang? Sepertinya si Ayu ini bakalan bilang: “engga men!”. Wanita bisa menegambil alih apa-apa yang dikerjakan oleh lelaki. Dalam masalah pekerjaan, si Laila yang berprofesi sebagai fotografer bisa berdiri bersama sekelompok lelaki di tempat pengeboran minyak lepas pantai. Laila satu-satunya wanita di tempat itu. Tanpa mahram, seakan lelaki itu tidak penting untuk menjaga dirinya. Lalu, Shakuntala (si tokoh favorit aku), mengambil kesempatan untuk belajar menari di Amerika, mengangkangi bapaknya yang ga setuju dia jadi penari - dijadikannya menari sebagai jalan hidup. Yasmin bekerja di ranah hukum, membantu Saman menyelesaikan kasus petani-petani di Lubukrantau setelah Laila memperkenalkannya pada Saman- bahkan dia memiliki peran penting yang bisa jadi kalau Yasmin tidak ada, Saman sudah bukan siapa-siapa lagi. Cok, membantu Saman dalam usaha menyembunyikannya, agar kasusnya tidak tercium pihak-pihak berwajib, sedangkan Pater Watenberg lebih mengambil sikap “tidak tahu” mengenai kasus si Saman. Melihat itu semua, aku jadi punya pandangan: wanita-wanita ini penting banget ya bagi si Saman.

Peran penting wanita pun merambah pada kehidupan seksual. Pria tidak selalu jadi yang “di atas”. Ini terlihat ketika Upi, seorang wanita sakit jiwa yang senang menggesek-gesekan kemaluannya untuk mendapatkan kenikmatan. aku menangkap ini sebagai penghinaan terhadap syahwat pria. Seakan mendapatkan ekstase kesenangan, Upi berlaku masa bodo terhadap apa yang dikata orang - meskipun dia gila. Dia melakukan apa yang dia mau. Tak ada penis, tiang listrik pun jadi. Dia menikmati setiap perlakuan pemerkosaan yang dilakukan beberapa pria terhadapnya. Di suatu alur cerita, diceritakan beberapa pria bayaran disuruh untuk memperkosa Upi sebagai ancaman pada warga dan juga Saman untuk segera menjual perkebunan karet yang dimiliki warga. Alih-alih Upi tersiksa oleh perlakuan perkosaan, dia malah menikmatinya. Ok, dia memang gila, tapi kegilaannya membikin Saman tunduk. Membikin Saman meninggalkan panggilan imamatnya sebagai pastor. Diceritakan, Saman sangat sayang terhadap Upi yang menuntun dia untuk berperan sebagi tokoh sentral dalam membantu para warga miskin untuk mempertahankan kebun karetnya. Sesekali Upi berusaha memegang penis Saman. Bukankah ini berarti masalah syahwat tidak hanya melulu tentang pria? Terlebih lagi, Saman di posisi ini bisa disebut sebagai budaknya Upi karena dia rela memperlakukan Upi agar hidupnya menjadi lebih baik. Ya, bukan budak Upi sepenuhnya sih, lebih tepat sebagai budaknya kasih sayang terhadap Upi. Tapi tetap saja, ini karena Upi.

Setali tiga uang. Shakuntala digambarkan sebagai pemberontak. Senang bertemu pria baru dan senang pula bercumbu mesra dengan pria-pria yang dia temui. Ini tentang kesenangan. Tentang bagaimana si Shakuntala menari “di atas” tubuh pria. Masa bodo dengan apa yang keluarganya nilai tentang dia, Shakuntala tetap menari. Uniknya, Skuntala berharap agar Laila, sahabatnya, tidak bersetubuh dengan Sihar karena dia tak suka Sihar dan dia melihat Laila sungguh tersiksa akan hubungan gelap yang dijalani Laila bersama Sihar yang sudah beristri. Berarti yang penting di sini adalah: hubungan seks harus dilakukan sebagai sarana mencari kesenangan disaat akan melakukan hubungan, saat melakukaan hubungan dan setelah melakukan hubungan. Jadi walaupun pria pengen tapi wanita engga, maka wanita bisa menolak ajakan pria. Tapi kalau wanita juga pengen atas dasar kesenangan, maka suatu hubungan seks baru dapat dilakukan dengan riang gembira.

Itu juga yang dinanti oleh Yasmin. Walaupun dia sudah bersuami. Yasmin menyanyangi Saman, begitu juga sebaliknya. Ini karena kedekatan mereka dalam usaha memperjuangkan hak-hak para petani perkebunan Lubukrantau. Witing tresno jalaran soko kulino. Kedekatan mereka terus berlanjut walaupun mereka akhirnya diceritakan LDR. Perselingkuhan LDR ini membuahkan hasil manis bagi kedua insan. Tentunya sangat manis bagi Yasmin yang berhasil menundukan si Saman yang pada awalnya malu-malu untuk bercinta dengannya - salah satu alasannya karena Saman masih menghargai suaminya si Yasmin. Tapi pada akhirnya Yasmin bersedia mengajari Saman tentang cara memuaskan dirinya dengan berkata: “…Aku ajari kamu. Aku perkosa kamu”, dan tentunya si Saman mau dengan berkata: “… Ajarilah aku. Perkosalah aku”.

Pokoknya, ini mah bacotanku tentang apa yang aku tangkap setelah baca novel ini. Tentang bagaimana wanita dapat mengambil alih peran pria dalam masalah kerjaan apa yang seharusnya diambil siapa dan tentang seks dimana siapa harus “di atas” siapa. Gitu aja sih.. yah pokoknya mah nilai-nilai patriarki bisa dipatahkan, menurut novel ini - menurut pikiran sintingku.

“Namun ada kala pria tak berdaya. Bertekuk lutut di sudut kerling wanita” - Ismail Marzuki



Tulisan ini pernah dimuat di :Buku-buku yang terbaca secara Rock N Roll dan Medium - Saman: Ketika Wanita di Atas Pria

---


# resensi
Baca catatan lainnya