Godot dan Masa Depan
ilusi yang diyakini“Kita sedang menunggu. Kita mulai jemu (Ia menelengkan kepala). Jangan, jangan menyanggah. Kita jemu menghadapi mati, tidak ada yang mengingkari ini, kan? Baik, maka datanglah selingan dan apa yang kita lakukan? Kita biarkan lewat sia-sia. Kesinilah, ayo kita turun tangan (Ia maju ke arah gundukan, langkahnya terhenti). Dalam sekejap semuanya sirna dan kita sendirian lagi di tengah-tengah ketiadaan” — Vladimir di babak kedua menunggu Godot

Sebuah teks drama yang begitu populer di era Theater of the Absurd (sekitar akhir tahun 50an) cukup membikin saya jadi pengen nulis lagi. Tanyakan saja pada para penggiat teater tentang keajaiban drama berjudul asli En Attendant Godot lalu diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi Waiting for Godot lalu bahasa Indonesianya bolehlah menjadi Menunggu Godot. Adalah karya seorang Samuel Beckett bergenre tragikomedi yang tersaji dalam dua babak. Memang rasanya berbeda dari baca novel ya, imaji dalam pikiran saya langsung membentuk panggung drama lengkap dengan pohon willow botak, seperti yang dituliskan di teks drama itu selaku pengarah setting, setiap adegan yang dituliskan memang membuat saya seperti sedang menonton drama di gedung teater. Menunggu tirai dibuka, menonton adegan demi adegan, dialog demi dialog, dan akhirnya tirai itu ditutup.
Yang jadi pertanyaan bagi siapapun yang membaca atau menonton drama ini adalah: Siapa Godot? Tidak ada penjelasan yang jelas tentang siapa Godot serta mengapa Vladimir dan Estragon mau capek-capek nungguin dia. Bakdi Soemanto (1999), telah mencoba menjelaskannya dalam pengantarnya untuk buku terjemahan teks drama itu, Menunggu Godot. Menurutnya, Godot hanyalah sebuah alasan bagi Vladimir dan Estragon untuk tetap menjalani hidup. Mereka menunggu Godot yang mereka tidak tahu siapa, dan belum tentu juga Godot akan datang menemui mereka. Yang jelas, Vladimir dan Estragon telah membikin janji dengan Godot untuk bertemu. Sebenarnya gampang saja bagi mereka untuk meninggalkan Godot. Mereka tidak tahu siapa dia (baru kenal gitu deh, dan ga jelas mereka kenal Godot dari mana), yakinlah bahwa mereka tidak akan terlalu rugi untuk tidak bertemu Godot. Mungkin, alasan paling kuat adalah karena hidup itu pilihan dan mereka memilih untuk terus menunggu walau apa yang ditunggu tak memberi kepastian.
Yah, memang, hidup adalah tentang menunggu. Manusia memang ditakdirkan menunggu. Sperma menunggu untuk dimuntahkan dari ujung penis. Ketika di dalam rahim, manusia menunggu kira-kira sembilan bulan untuk keluar menghirup dunia. Menunggu jam sekolah berakhir, menunggu rapor, menunggu kelulusan, menunggu wisuda, menunggu panggilan kerja, menunggu dilamar nikah bagi wanita, menunggu punya anak, menunggu anak menjadi sukses, menunggu mati, dan sebagainya, dan sebagainya. Godot adalah simbol dari apa yang ditunggu oleh manusia, oleh kita. Godot adalah kelulusan, Godot adalah pacar yang ditunggu di cafe untuk makan malam, Godot adalah anak yang akan lahir ke dunia, Godot adalah ajal, Godot adalah terompet Israfil, Godot adalah surga, Godot adalah neraka, dan sebagainya, dan sebagainya. Maka, Vladimir dan Estragon adalah manusia yang menjalani masa menunggu. Selagi menunggu Vladimir dan Estragon ngabulatuk kesana kemari, bicara tidak nyambung, debat kusir, berjalan mondar-mandir di sebuah tempat di bawah pohon botak. Hal yang sama kita lakukan saat menunggu. Tunggu, apakah kita benar-benar tahu kalau masa depan itu akan seperti yang dijanjikan?
Janji bukan soal benar atau salah. Janji melulu tentang ditepati atau diingkari terlepas dari bagaimana janji itu dibuat. Manusia bisa berjanji semaunya pada saat ingin berjanji, urusan ditepati atau tidak itu masalah nanti. Janji Godot adalah refleksi janji-janji masa depan manusia. Manusia tidak akan pernah tahu masa depannya. Mahasiswa S-1 yang baru mulai kuliah tidak akan pernah tahu apakah dia akan lulus cum laude atau malah DO ditengah jalan. Yang dilakukan mahasiswa hanyalah menunggu. Seorang ayah tidak akan pernah tahu apakah spermanya yang mendarat di sel telur akan berubah menjadi bayi atau tidak, lagi-lagi hanya bisa menunggu hasil yang diberikan dokter kandungan.
Mengapa manusia dapat begitu yakin akan janji-janji masa depan? Karena ada yang mengingatkan. Al-Quran mengingatkan seorang muslim bahwa surga menanti jika dia berbuat baik semasa hidup. Guru sekolah mengingatkan bahwa di akhir tahun ajaran seorang siswa bisa naik kelas asalkan nilainya bagus. Estragon selalu diingatkan Vladimir bahwa mereka sedang menunggu Godot, maka Estragon yang berkali-kali ingin meninggalkan lokasi mengurungkan niatnya. Di bagian akhir dari masing-masing babak, diceritakan bahwa ada seorang anak yang menemui Vladimir dan Estragon sembari membawa pesan dari Godot, pean itu menyuratkan bahwa Godot tidak bisa datang hari ini dan besok bisa. Dalam hal ini, si anak merupakan pengingat bagi Vladimir dan Estragon, meyakinkan mereka bahwa Godot masih ingin bertemu mereka walaupun tidak untuk hari ini. Maka, menunggulah mereka. Esok harinya, mereka menunggu lagi sampai hampir malam dan si anak kembali datang membawa pesan yang sama. Mereka sudah mulai putus asa dan memutuskan untuk pergi. Digambarkan bahwa mereka setuju untuk pergi tetapi mereka tak kunjung pergi sampai tirai teater menutup.
Tentu saja Vladimir dan Estragon tidak hanya bengong menunggu Godot dari pagi sampai malam. Mereka berdialog, saling melempar pendapat tentang apapun, menonton Lucky menari dan bertemu orang baru bernama Pozzo yang merupakan majikan Lucky. Juga, membantu Pozzo yang terjatuh. Hidup adalah tentang hubungan. Estragon tak bisa dipisahkan atas Vladimir, dan begitu pula sebaliknya. Lucky sang budak memubutuhkan Pozzo agar dia bisa (setidaknya) berfikir, begitu juga Pozzo yang membutuhkan Lucky (Soemanto, 1999 ). Di sela-sela menunggu masa depan, Samuel Beckett memberi bumbu-bumbu kehidupan manusiawi dalam lakon ini. Manusia memang seharusnya bersosialisasi dan membuat hidup mereka berharga, alasannya simple saja: agar tidak bosan menunggu.
Jangan sia-siakan waktu dengan omongkosong lagi! Ayo kita berbuat sesuatu selagi ada kesempatan! Tidak setiap hari kita dibutuhkan orang. Belum tentu kita menjadi orang yang selalu dibutuhkan. Orang lain juga demikian kalau bukan lebih baik nasibnya, kitalah yang saat ini menjadi manusia itu. Ayo kita berbuat yang terbaik sebelum terlambat!” — Vladimir di babak kedua Menunggu Godot
Menunggu dan ikhtiar. Sebuah janji masa depan sejatinya memang harus ditunggu dengan sabar dan ikhtiar untuk mendapatkan janji itu. Ikhtiarnya Vladimir dan Estragon jelas terlihat, mereka setia menunggu di dekat pohon, tempat yang telah dijanjikan. Ketika si anak membawa pesan bahwa besok Godot akan datang pun esoknya mereka datang kembali ke tempat itu, dan tentu saja, kembali menunggu. Dalam kehidupan nyata, ya itu tadi, mahasiswa yang ingin cum laude pasti akan belajar sungguh-sungguh sebagai bentuk ikhtiarnya. Beribu-ribu buruh berpesta dan berdemo setiap Mayday adalah bentuk ikhtiar untuk mendapatkan keyakinan yang telah dibentuk ideologi Marxisme — workers paradise. Bahkan Yesus pun rela disalib untuk meraih tujuan atas keyakinannya, menghapus dosa anak Adam. Sampai sekarang para situasionis anarkis masih saja menyebarkan propaganda, mengingatkan bahwa kapitalisme adalah sistem busuk dan egaliter merupakan sistem ideal bagi muka bumi: tanpa negara, tanpa pemimpin resmi, walaupun mereka tahu kapitalisme dan superstruktur lainnya yang telah menghipnotis pola pikir dan kesadaran manusia adalah sebuah sistem raksasa yang tidak mudah untuk diruntuhkan. Berarti kuncinya hanya satu: yakin akan apa yang kita jalani biar janji masa depan bisa diraih, kalaupun tidak, setidaknya ras manusia telah melakukan yang terbaik bagi hidupnya sehingga tidak bosan dan monoton. Bukankah kebahagiaan bisa diraih dari hasil perjuangan? Bukankah apabila manusia berjuang maka mereka tidak akan pernah disebut pecundang? Yah, manusia memang hanya bisa berusaha, masa depan hanyalah ilusi saja karena sejatinya setiap makhluk hanya hidup untuk hari ini (present). Carpe Diem lah ya.
Dan apabila menggunakan ilmu cocoklogi, maka drama ini merupakan refleksi dari simbol penantian manusia akan akhir dari perang dunia ke dua mengingat lahirnya drama ini ada di tahun 50an. Cocoklogi aja sih itu mah.
Well, Menunggu Godot, sebuah drama omongkosong sebenarnya, banyak percakapan yang tidak nyambung bagi saya. Tapi terkadang hidup memang jangan disambung-sambungkan, biarlah masing-masing berdiri sendiri dan bangga akan pendiriannya itu biar tidak ada kerusakan. Pozzo dan Lucky: hubungan majikan dan budak yang harmonis. Majikan yang akan tetap selalu membutuhkan budaknya menjadikan dia tidak ada apa-apanya dibandingkan budak. Ah, dan Lucky ini sangat membutuhkan majikannya agar dia bisa berjalan dan berfikir. Ah, sudahlah kalau membahas ini nantinya malah mambahas perbudakan yang terkutuk dan laknat. Vladimir dan Estragon, mereka berdua adalah sahabat(?), ah lebih tepat disebut kolega saja yang saling membutuhkan setidaknya untuk berpelukan satu sama lain. Dan si Godot ini hanya manusia tak tahu diri yang meremehkan janji.
Daftar Pustaka:
Beckett, S. (1999). Menunggu Godot (F. Bambang S., Penerj.; B. Soemanto, Pengantar). Jakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Pernah dimuat di Buku-buku yang terbaca secara Rock N’Roll Vol 1–5 dan di Medium - Godot dan Masa Depan: Ilusi yang Diyakini
---
# resensi
Baca catatan lainnya