Setelah Membaca Setelah Boombox
usai menyalakAku kira menulis resensi buku itu akan mudah. Ada saja alasan yang membuat aku tidak jadi menulis resensi utuh. Seringnya, karena malas akibat telah melewati rutinitas sehari-hari. Namun, perlu diakui bahwa membaca Setelah Boombox Usai Menyalak (seterusnya aku akan menyebut Setelah Boombox) itu lebih mudah daripada membaca Falsafah Hidup Buya Hamka. Bukan karena bobot materinya yang lebih ringan. Tentu tidak. Tulisan Herry Sutresna alias Ucok tentu bukan perkara enteng untuk dibaca, melainkan aku lebih tertarik membaca buku musik keren-kerenan seperti hip-hop dan punk daripada belajar agama. Maafkan aku ya Allah.
Anyway, aku menyusuri rak buku untuk mencari apa yang enak dibaca setelah sepertiga isi Falsafah Hidup kubaca. Aku sungguh ingin membaca buku lagi tapi yang membuatku bergairah. Maka, akan kumulai dari perkara duniawi dulu ketimbang ukhrowi. Setelah Boombox yang sempat kubeli beberapa tahun lalu menjadi pilihan. Dengan kertas yang sudah dihiasi bercak menguning, dan bau khas buku yang disimpan lama. Kedua kalinya aku baca buku ini. Aku langsung masuk ke tulisan pertama yang berjudul Bapa.
Kumpulan tulisan ini dibuka dengan tulisan yang sungguh personal sekali, tentang Bapa. Sebagai laki-laki, aku seringkali ada rasa gengsi untuk bercerita tentang bapaku sendiri. Ada ego yang entah mengapa agak sedikit sungkan untuk mengakui bahwa hidupku ini, keberhasilan dan pola hidup kali ini banyak dipengaruhi dan dibantu oleh sosok bapa. Ya, namanya juga laki-laki. Tulisan Bapa ini adalah sebuah hint kenapa Ucok menjadi Ucok yang sekarang. Kenapa dia jadi geek terhadap musik dan bergerak di jalur aktivisme sosial-politik.
Sangat personal. Aku suka tulisan-tulisan personal. Seakan aku ditemani berbicara dengan si penulis. Seperti aku yang rasanya dinasihati Haruki Murakami dalam What I Talk about When I Talk about Running. Atau seremeh candaan-candaan Pidi Baiq dalam Drunken Series-nya. Sebagai pelipur kejenuhan setelah membaca buku-buku yang teknis. Tidak jarang aku ikut masuk ke alam pikiran mereka, ke dalam keresahan-keresahan mereka. Bernard Batubara begitu resah dengan eksistensinya sebagai penulis dalam Tentang Menulis.
Justru karena sangat personal, Ucok seakan tidak peduli siapa yang akan membaca bukunya. Dia merepet tentang banyak term hip-hop lalu beralih ke filsafat absurditas Albert Camus dan nihilisme Nietzsche yang dipadu dengan teori psikologi Foucault (will to power - will to knowledge). Toh, buku ini memang kumpulan-kumpulan tulisan yang asalnya tersebar di berbagai platform. Dari mulai tulisan untuk sebuah rilisan album musik, kolom majalah, sampai blog pribadinya yang bisa diakses di gutterspit.com . Namun dengan kepiawaiannya dalam menulis, aku sampai mengetik Company Flow di mesin pencari karena dia sungguh mengagumi karyanya. Aku ingin mengerti opininya tentang grup hip-hop yang jauh dari arus utama. Begitu juga dengan Refused, aku mencarinya, mendengarkan dan aku menyukainya. Pencarianku pun tidak berhenti di musik. Absurditas Albert Camus aku baca-baca lagi karena Ucok menyebut frase “berkarya dalam bahaya”.
Memang bahaya pengetahuan musik beliau ini. Saat wisuda SD, Ucok sudah mendengar Scritti Politti. Aku? Di saat SD mendengar bapaku memutar Go West dari Pet Shop Boys keras-keras sambal nyiram tanaman pagi-pagi. Di kemudian hari aku dapat kabar, konon lagu ini adalah anthem gay atau komunis. Untuk gay, aku bisa merasakan vibe-nya, tapi sepertinya komunis bakal lebih sangar dan jauh lebih artistik dari ini deh. Sialnya lagi, Ricky Teddy si bassist Jamrud pernah main ke rumah dan membeli ayam aduan bapaku. Masa kecilku jadi dipenuhi lagu-lagu Jamrud. Apalagi di era album Ningrat. Sedangkan Ucok sudah akrab dengan Black Sabbath dan The Beatles karena sang bapa memutar piringan hitamnya.
Pamanku yang menyelamatkanku dari musik norak. Aku sering main ke kamarnya, setidaknya jadi terpapar blink-182 walau itu juga norak untuk ukuran anak punk. Padahal pamanku sering juga memutar kaset Ramones, Sex Pistols, dan Chous UK. blink-182 lebih ngena karena musiknya catchy. Aku percaya selera musik yang keren dapat membentuk orang jadi keren juga. Sialnya, aku telat keren. Untung saja selera musik teman-teman STM waktu itu bagus-bagus. Waktu itu aku berbagi dan meminta file musik via flashdisk 128MB. Aku jadi mendengar Homicide untuk pertama kalinya dan kagum dengan liriknya yang aduhai rumit dan sangat intelektual itu.
Bukti musik keren bikin orang jadi keren itu terjadi pada temanku, Fajar. Darinya aku jadi mengenal Against Me!, Propagandhi, dan Dead Prez. Fajar adalah pendiri Perpustakaan Jalanan Bandung yang kini melegenda itu. Aku beruntung pernah menemaninya. Tepatnya, aku menjadi sidekick bersama Fahmy. Jauh sebelum Perpustakaan Jalanan, aku dikenalkan pada sebuah komunitas para mahasiswa yang ngajar anak jalanan baca-tulis-hitung. Aku sempat menjadi relawan (shit! i hate that word) di sana.
Musik memang menjadi salah satu urat nadi di buku ini. Ucok itu nerd dan nerd akan apapun akan jadi sesuatu. Jadi buku misalnya. Sampingkan dulu Flip da Skrip, Setelah Boombox pun menampilkan betapa Ucok tidak hanya menikmati musik, dia tahu sampai belakang-belakangnya. Bukti bahwa dia melahap banyak interview dan mengulik sejarah dari musik yang dinikmati. Memang, ketika in the zone, jiwa seseorang sudah tidak di raganya, mengawang transenden ke zona yang digeluti. Seperti ketika aku membaca tulisan tentang pengalamannya nonton Godspeed You! Black Emperor di Malaysia. Aku larut dalam kisahnya, dalam informasi perjalanannya, dalam trivia tentang Godspeed, dalam mengapa dia suka Godspeed dan sikap politiknya.
Jika menyukai musik hanya karena musiknya atau karena musisinya, itu sungguh lumrah. Tapi kalau sudah ngebahas siapa ilustrator di cover album si musisi, itu baru edan. Keedanan itu bisa direduksi dengan mengingat bahwa background Ucok juga adalah seorang ilustrator dan dia adalah hip-hop head paling edan di negeri ini. Ucok membahas tentang Matt Doo dengan sangat niat. Itulah yang ku maksud personal sepersonal-sonalnya. Dia seakan ga peduli siapa yang baca. Gak peduli yang baca ngerti atau engga. Gak peduli relate atau engga. Sampai ke titik paling ekstrim : ga peduli setuju atau engga.
Pun perihal essay eulogi untuk kawan, Andry Moch. Siapa Andry Moch? Sejujurnya aku tidak begitu peduli, tapi Ucok bisa menggambarkan situasi Bandung saat Andry Moch aktif di skena musik dan aktivisme, itu yang bikin aku terus membaca tulisannya sampai selesai. Ucok adalah pencerita yang ulung. Cerita-cerita itu membantuku kabur dari rutinitas. Setiap hari bergelut dengan itu-itu saja seperti Sisifos yang dorong batu. Membaca adalah pemberontakan untuk menyiasati kebosanan dan menolak tunduk pada kutukan rutinitas. Sungguh, aku membaca Setiap Boombox di sela-sela rutinitas kerja.
Pun dengan menulis, ketika manusia lebih ingin berbicara daripada mendengar, lembar kosong adalah peraduan bagi keruwetan isi kepala. Mungkin itu juga yang ada di benak Ucok ketika menulis, apalagi menulis yang bukan pesanan. Membagikan resensi album hip-hop favorit, pandangan politik, dan keresahannya akan musik-musik jelek.
Buku ini jauh dari sekedar buku musik. Dari mulai Marx dan Nietzsche terjalin walau hanya bicara musik. Aku yang lagi doyan nulis jadi iri mampus karena itu berarti Ucok ga hanya dengerin banyak musik, dia juga banyak baca. Sudah saatnya untuk ganti dumb scrolling dengan dumb reading. Walau sama-sama dumb, setidaknya aku percaya jika reading books lebih banyak manfaatnya.

---
# resensi
Baca catatan lainnya