Aku bikin Fight Club
gak deng, ini cuma laribrengsek! pagi ini aku lari, tapi smartwatch murahanku ngerestart di 9k dengan waktu tempuh 1 jam 8 menit.
kini aku mengerti mengapa si tokoh utama tanpa nama dalam kisah fight club karya chuck palahniuk sangat menikmati pertarungan.
aku merasakan itu di setiap lariku. di setiap kilometer yang kulariin. di setiap sakit sakit kaki. di setiap megap megap napas.
pertarungan melawan diri sendiri adalah obat bagi pria yang merasa kalah dalam hidup. fight club bukan sport. fight club adalah cara para pekerja kelas menengah berekreasi demi babak belur. demi mengenali dan melampaui batas batas diri. demi kelelahan untuk kepuasan. demi perasaan melayang setelahnya.
setelah jadi bapak, aku tersadar bahwa banyak hal yang memang tak bisa dimenangkan. segera menurunkan presiden, misalnya. rasa kesal itu sebaiknya dikeluarkan supaya tidak jadi sedimen kotor di tubuh. bagaimana caranya? kalau aku dengan berlari.
sama seperti si tokoh utama tanpa nama yang menganggap semua hal jadi gak penting setelah di akhir pekan dia baku hantam di fight club, aku pun relatif lebih mudah menyingkirkan hal gak penting dalam hidup setelah selesai berlari. apalagi setelah long run di akhir pekan. ya, long run ku adalah fight club ku.
aku terlalu cemen untuk ngajak orang berantem. gym baru satu setengah tahun. pernah ikutan ekstrakulikuler bela diri waktu stm tapi bela dirinya yang ada kebatinan kebatinannya gitu alias bela diri kocak. yang artinya, kemampuan bela diriku masih dibawah standar iko uwais. babak belur adalah ganjaran pasti.
setelah berlari rutin sekitar tiga bulanan ini, aku paham: oh ternyata ini fight club ku. aku bertarung dengan diri sendiri. aku adalah project mayhem untuk diriku.
konsep bertarung dengan diri sendiri itu buatku aneh sejujurnya. aku lawan diriku. kalau aku menang, aku sekaligus kalah. kalau aku kalah, aku juga menang. apa sih ini?
tapi itu tidak perlu dirisaukan lagi karena setelah kilometer ketiga, biasanya aku mulai merinding. lagu dikuping jadi semakin enak. badan jadi ringan dan kilometer selanjutnya jadi tidak masalah asal jantung, otot rangka dan tendon di kakiku tidak ngambek.
alasan lari untuk sehat telah bergeser jadi alasan lari untuk tenang. untuk meditasi supaya bisa merasa melayang seperti dhalsim street fighter yang rutin yoga sehingga bisa memuntahkan bola api. aku menemukan why ku, pak simon sinek.
di negara ini, baik baik ngurusin pikiran. berita yang seliweran ada aja yang bikin asam lambung naek. pidato jadi sediperbincangkan itu semacam era bapak soekarno dengan rasa yang tentu saja beda.
di negara yang kita harus cerdik dalam menentukan pilihan ini, detak jantung jangan terlalu dagdigdug supaya pikiran lega.
berlari, bagiku bisa cukup membantu. psikolog mahal, sekolah anak mahal, dolar mahal, americano juga jadi terasa mahal. lari doang yang murah, tinggal pake sepatu lalu lari.
tapi kita hidup di era post-truth. beli smartwatch, install strava, post hasil lari. mengais validasi.
seperti kata rene descartes: aku post strava maka aku lari.
---
Baca catatan lainnya